Pages

Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label SP. Maria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SP. Maria. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2013

Tertidurnya Maria

oleh: P. William P. Saunders *

Saya menyetel Channel 118 untuk mengikuti program Rosario. Ketika imam sampai pada misteri keempat, “Maria Diangkat ke Surga,” mereka memperlihatkan pemandangan sebuah gereja di Israel yang diberi nama “Tertidurnya Maria.” Di sana terdapat sebuah patung Bunda Maria yang tertidur dan sebuah makam kosong. Saya belum pernah mendengar tentang tertidurnya Maria. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca ACH

Istilah “Tertidurnya Maria” (bahasa Latin “dormire” artinya tidur) dapat menyesatkan sebab seolah lebih terfokus pada wafat dan pemakaman Bunda Maria. Keyakinan seputar tertidurnya Maria pada hakekatnya berhubungan dengan diangkatnya Santa Perawan Maria, badan dan jiwa, ke surga. Dengan jawaban pendahuluan seperti di atas, kita perlu meninjau kembali Dogma Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga dan bagaimana dogma ini berhubungan dengan “Tertidurnya Maria”.

Memang, peristiwa Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga tidak dicatat dalam Kitab Suci. Sebab itu, banyak kaum fundamentalis yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah akan mengalami kesulitan dalam memahami keyakinan ini. Namun demikian, pertama-tama kita patut berdiam diri dan merenungkan peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan, sebab inilah yang menjadi dasar dari keyakinan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Kita percaya teguh bahwa sejak dari awal mula perkandungannya, karena kasih karunia istimewa dari Allah Yang Mahakuasa, Maria bebas dari segala noda dosa, termasuk dosa asal. Malaikat Agung St Gabriel mengenali Maria sebagai “penuh rahmat,” “terpuji di antara perempuan,” dan “bersatu dengan Tuhan.” Maria telah dipilih untuk menjadi Bunda Juruselamat kita. Dari kuasa Roh Kudus, ia mengandung Tuhan kita, Yesus Kristus, dan melalui dia, sungguh Allah menjadi juga sungguh manusia, “Sabda itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).

Sepanjang masa hidupnya, walau catatan dalam Injil amat terbatas, Maria senantiasa menghadirkan Tuhan kita kepada yang lain: kepada Elisabet dan puteranya, Yohanes Pembaptis, yang melonjak kegirangan dalam rahim ibundanya atas kehadiran Tuhan yang masih berada dalam rahim BundaNya; kepada para gembala yang sederhana dan juga kepada para majus yang bijaksana; pula kepada warga Kana ketika Tuhan kita meluluskan kehendak BundaNya dan melakukan mukjizat-Nya yang pertama. Terlebih lagi, Maria berdiri di kaki salib bersama Putranya, memberi-Nya dukungan dan berbagi penderitaan dengan-Nya lewat kasihnya seperti yang hanya dapat diberikan oleh seorang ibunda. Dan akhirnya, Maria ada bersama para rasul pada hari Pentakosta ketika Roh Kudus turun dan Gereja dilahirkan. Sebab itu, masing-masing dari kita dapat melihat serta merenungkan Maria sebagai hamba Allah yang setia, yang ikut ambil bagian secara intim dalam kelahiran, kehidupan, wafat dan kebangkitan Tuhan kita.

Karena alasan-alasan ini, kita percaya bahwa janji Tuhan yang diberikan kepada setiap kita akan keikutsertaan dalam hidup yang kekal, termasuk kebangkitan badan, digenapi dalam diri Maria. Sebab Maria bebas diri dosa asal dan segala konsekuensinya (salah satunya adalah kerusakan badan setelah kematian), sebab ia ikut ambil bagian secara intim dalam hidup Tuhan dan dalam sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, dan sebab ia ada saat Pentakosta, maka model dari pengikut Kristus ini sungguh pantas ikut ambil bagian dalam kebangkitan badan dan kemuliaan Tuhan di akhir hidupnya.

Berdasarkan pemahaman ini, Paus Pius XII dengan khidmad memaklumkan dalam Munificentissimus Deus tanggal 1 November 1950, bahwa “Bunda Allah yang Tak Bernoda Dosa, Maria yang tetap perawan selamanya, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya.” Patut dicatat bahwa definisi khidmad tersebut tidak menjelaskan apakah Maria wafat secara fisik sebelum diangkat ke surga atau langsung diangkat ke surga; hanya dikatakan, “Maria, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia ….”

Jadi apakah Bunda Maria wafat terlebih dahulu sebelum diangkat ke surga? Apakah ia “tertidur”? Apakah ia dimakamkan? Gereja tidak mengikat kita pada suatu jawab tertentu sebab tradisi mengenainya kurang jelas. Dalam suatu kumpulan kisah apokrif berjudul Transitus Mariae (Perjalanan Maria), yang dianggap sebagai tulisan Uskup St. Melito dari Sardis (wafat ±thn 200), Bunda Maria wafat dihadapan para rasul di Yerusalem, dan kemudian menurut kisah tersebut, tubuhnya menghilang begitu saja, atau dimakamkan dan kemudian menghilang.

St Yohanes Damaskus (wafat 749) juga menuliskan suatu kisah yang menarik sehubungan dengan SP Maria Diangkat ke Surga, “St Juvenal, Uskup Yerusalem, dalam Konsili Kalsedon (451), memberitahukan kepada Kaisar Marcian dan Pulcheria, yang ingin memiliki tubuh Bunda Allah, bahwa Maria wafat di hadapan segenap para rasul, tetapi bahwa makamnya, ketika dibuka atas permintaan St Thomas, didapati kosong; dari situlah para rasul berkesimpulan bahwa tubuhnya telah diangkat ke surga.”

Namun demikian, kisah-kisah ini janganlah lebih diutamakan dari dasar teologis mengenai keyakinan kita akan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Sebaliknya, patutlah kita ingat bahwa para Bapa Gereja membela dogma SP Maria Diangkat ke Surga dengan dua alasan: Sebab Maria bebas dari noda dosa dan tetap perawan selamanya, ia tidak mengalami kerusakan badan, yang adalah akibat dari dosa asal, setelah wafatnya. Juga, jika Maria mengandung Kristus dan memainkan peran yang akrab mesra sebagai BundaNya dalam penebusan manusia, maka pastilah juga ia ikut ambil bagian badan dan jiwa dalam kebangkitan dan kemuliaan-Nya.

Namun demikian, kisah-kisah saleh mempopulerkan istilah “tertidur,” merenungkan bahwa Maria di akhir hidupnya “tertidur” dan kemudian diangkat ke dalam kemuliaan surga. Kaisar Byzantine Mauritius (582-602) menetapkan perayaan Tertidurnya Santa Perawan Maria pada tanggal 15 Agustus bagi Gereja Timur demi memperingati wafat dan diangkatnya Santa Perawan Maria ke surga. (Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa perayaan ini telah tersebar luas sebelum Konsili Efesus pada tahun 431.) Pada akhir abad keenam, Gereja Barat juga merayakannya dengan nama SP Maria Diangkat ke Surga.

Entah kita mempergunakan istilah “tertidur” atau “diangkat ke surga,” keyakinan dasarnya tetap sama. Katekismus, dengan mengutip Liturgi Byzantine, memaklumkan, “Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Putranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain. `Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu'” (No 966).

Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada masing-masing kita pengharapan besar sementara kita merenungkan satu sisi ini dari Bunda Maria. Maria menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada kehendak-Nya, agar mengubah hidup kita melalui kurban dan penitensi, dan mencari persatuan abadi dalam kerajaan surga. Pada tahun 1973, Konferensi Waligereja Katolik dalam surat “Lihatlah Bundamu” memaklumkan, “Kristus telah bangkit dari mati; kita tidak membutuhkan kepastian lebih lanjut akan iman kita ini. Maria diangkat ke surga lebih merupakan suatu pengingat bagi Gereja bahwa Tuhan kita menghendaki agar mereka semua yang telah diberikan Bapa kepada-Nya dibangkitkan bersama-Nya. Dalam Maria diangkat ke dalam kemuliaan, ke dalam persatuan dengan Kristus, Gereja melihat dirinya menjawab undangan dari Mempelai surgawi.”


* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: The Dormition of Mary” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2001 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Selasa, 01 Januari 2013

Santa Perawan Maria Dari Akita




Para Abdi Ekaristi adalah sebuah komunitas religius sekulir di Yuzawadai, pinggiran kota Akita, yang dibentuk oleh Uskup Akita, Mgr Yohanes Shojiro Ito. Pada tanggal 12 Mei 1973 Sr Agnes Katsuko Sasagawa, yang pada waktu itu berusia 42 tahun, seorang pemeluk Budha yang baru beberapa tahun menjadi Katolik, bergabung sebagai novis di sana. Ketika masuk, Sr Agnes baru saja kehilangan pendengarannya dan sama sekali tuli tanpa dapat disembuhkan.

Peristiwa mukjizat pertama di Akita terjadi pada tanggal 12 Juni 1973, hanya satu bulan setelah Sr Agnes bergabung. Pada hari itu, ia sedang seorang diri saja di kapel biara. Saat ia sedang membuka pintu tabernakel, sekonyong-konyong memancarlah suatu cahaya kemilau dari tabernakel; serta-merta Sr Agnes merebahkan diri di lantai dan tetap dalam keadaan prostratio demikian hingga sekitar satu jam lamanya, takluk oleh suatu kekuatan yang mahadahsyat.

Pada tanggal 14 Juni 1973, Sr Agnes kembali melihat cahaya kemilau dari tabernakel, kali ini dilingkupi oleh suatu nyala api merah yang kuat, yang memancarkan berkas-berkas cahaya ke segala penjuru. Lagi, pada sore hari menjelang Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tanggal 28 Juni, ia melihat cahaya kemilau dari tabernakel, kali ini tampak juga begitu banyak makhluk serupa para malaikat yang mengelilingi altar dalam sembah sujud di hadapan Sakramen Mahakudus. Keesokan harinya, yang adalah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, malaikat menampakkan diri sementara Sr Agnes hendak memulai berdoa rosario. Malaikat kemudian memintanya untuk menambahkan kata “sungguh” dalam doa yang disusun Uskup Ito bagi komunitas. Sejak saat itu, doa ditujukan kepada “Hati Yesus yang Mahakudus, yang SUNGGUH hadir dalam Ekaristi Kudus.” Peristiwa-peristiwa ini merupakan awal dari serangkaian peristiwa adikodrati yang berlangsung selama sembilan tahun lamanya dari tahun 1973 hingga tahun 1982.


     Suster Agnes dan Malaikat Pelindung

Ketika diminta untuk menggambarkan malaikat pelindungnya, Sr Agnes menjawab, “wajahnya bulat, dengan ekspresi yang manis … seorang yang diliputi oleh suatu kemilau putih bagai salju ….” Malaikat pelindung mempercayakan banyak pesan kepadanya, kerapkali berdoa bersamanya, pula membimbing serta menasehatinya.

Sore hari pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus tanggal 28 Juni 1973, Sr Agnes mendapati suatu luka berbentuk salib muncul di telapak tangan kirinya. Luka ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa hingga Sr Agnes mengatakan, “Tak akan pernah aku dapat melupakan rasa sakit itu.” Pada tanggal 5 Juli 1973, suatu lubang kecil muncul di tengahnya darimana darah mulai memancar. Malaikat pelindungnya menampakkan diri dan membimbingnya untuk melakukan silih kepada Hati Yesus yang Mahakudus bagi dosa-dosanya dan bagi dosa-dosa segenap umat manusia.


     Stigmata yang Berdarah

Keesokan harinya, pada tanggal 6 Juli 1973, malaikat pelindung kembali menampakkan diri kepada Sr Agnes, “… Luka Bunda Maria jauh lebih dahsyat dan lebih menyengsarakan daripada lukamu. Marilah kita pergi berdoa bersama di kapel.” Setelah memasuki kapel, malaikat menghilang. Sr Agnes kemudian berpaling kepada patung Bunda Maria yang terletak di sisi kanan altar.

Patung ini, yang tingginya kira-kira tiga kaki, diukir dari sebatang kayu utuh yang kering dan keras tanpa sambungan, menggambarkan Santa Perawan Maria berdiri di depan sebuah salib, dengan kedua tangannya direntangkan ke arah bawah. Di bawah kaki patung, terdapat sebuah bola yang menggambarkan dunia. Saburo Wakasa, seorang pemahat Jepang beragama Budha, memahat patung ini sekitar tigapuluh tahun yang lalu dengan mempergunakan sehelai kartu bergambar “Bunda Segala Bangsa” sebagai model, sembari menambahkan profil wajah khas perempuan Jepang dalam patungnya.

Sr Agnes mengenang saat itu, Aku merasa bahwa patung kayu itu menjadi hidup dan hendak berbicara kepadaku … Ia bermandikan cahaya yang cemerlang … dan pada saat yang sama, suatu suara yang merdu tak terperi menembusi telingaku yang sama sekali tuli.”

Bunda Maria berkata kepadanya, “Jangan takut. Engkau akan disembuhkan. Bersabarlah ….”

Kemudian Bunda Maria bersama Sr Agnes bersama-sama mendaraskan doa komunitas yang disusun Uskup Ito. Pada kata-kata “Yesus yang hadir dalam Ekaristi,” Maria mengatakan, “Mulai sekarang, kalian akan menambahkan SUNGGUH.” Bersama dengan malaikat yang muncul kembali, ketiganya mendaraskan doa persembahan diri kepada Hati Yesus yang Mahakudus, yang SUNGGUH hadir dalam Ekaristi. Sebelum menghilang, Bunda Maria meminta Sr Agnes untuk “berdoa banyak-banyak bagi Paus, para uskup dan para imam.”

Keesokan paginya, ketika para biarawati berkumpul bersama untuk mendaraskan Laudes, mereka mendapati darah mengalir dari telapak tangan kanan patung dan juga luka berbentuk salib; di tengah luka terdapat sebuah lubang darimana darah memancar. Luka itu mirip benar dengan luka pada telapak tangan kiri Sr Agnes, hanya saja, karena patung itu kecil maka lukanya juga lebih kecil. Luka itu memancarkan darah pada setiap malam Jumat dan sepanjang hari Jumat, begitu juga luka di tangan Sr Agnes. Yang menarik, tetesan darah mengalir sepanjang tangan patung, yang terentang dan mengarah ke bawah, namun tetesan-tetesan darah itu tidak pernah jatuh dari tangan.

Rasa sakit yang diderita Sr Agnes terus berlanjut hingga pada suatu Jumat siang tanggal 27 Juli, menjadi begitu hebat nyaris tak tertahankan. Ia pergi ke kapel guna mendapatkan penghiburan dan prostratio dalam doa. Sejenak kemudian, ia mendengar suara malaikat pelindungnya, “Penderitaanmu akan berakhir hari ini.” Malaikat kemudian menghilang dan rasa sakit di tangannya lenyap seketika; lukanya telah sembuh sama sekali tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.

Luka di tangan patung Bunda Maria tetap tinggal hingga kurang lebih dua bulan tiga minggu lamanya dan lenyap dengan sendirinya pada tanggal 29 September 1973.

Pada ibadat sore tanggal 29 September itu, seluruh komunitas melihat suatu cahaya cemerlang yang berasal dari patung. Seketika itu juga sekujur tubuh patung diliputi oleh suatu embun serupa keringat. Malaikat pelindung berkata kepada Sr Agnes, Bunda Maria bahkan terlebih sedih lagi daripada ketika ia mengucurkan darah. Keringkanlah keringatnya.” Dari “keringat” Bunda Maria ini tercium bau harum mewangi. Para biarawati mempergunakan gumpalan-gumpalan kapas untuk menyeka keringat. Cahaya kemilau yang meliputi patung pun perlahan-lahan lenyap.


     Patung SP Maria Berubah Secara Ajaib

Menjelang akhir Mei 1974, suatu fenomena lain terjadi. Sementara gaun dan rambut patung tetap tampak sebagai kayu alami, tetapi wajah, kedua tangan dan kaki Bunda Maria berubah warna menjadi gelap, coklat kemerah-merahan. Delapan tahun kemudian, ketika sang pemahat datang untuk melihat patung ukirannya, tak mampu ia menyembunyikan rasa terkejutnya. Hanya bagian-bagian tubuh Santa Perawan yang kelihatan saja yang berubah warna, dan bahkan wajahnya pun telah berubah ekspresi.


     SP Maria Meneteskan Airmata 101 Kali

Patung Bunda Maria mulai meneteskan airmata untuk pertama kalinya pada pagi hari Sabtu, tanggal 4 Januari 1975. Pada siang dan sore hari yang sama, patung kembali meneteskan airmata untuk kedua dan ketiga kalinya. Dalam jangka waktu 6 tahun 8 bulan, dari waktu ke waktu patung Bunda Maria meneteskan airmata; terakhir kalinya, yang ke-101 kalinya terjadi pada tanggal 15 September 1981, pada peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita.

Tigabelas hari sesudahnya, pada tanggal 28 September, Sr Agnes merasakan kehadiran malaikat di sampingnya, di depan Sakramen Mahakudus yang ditahtakan, pada saat doa hening sesudah pendarasan rosario bersama oleh para biarawati di kapel. Ketika itu Sr Agnes tidak melihat sosok sang malaikat, melainkan muncul di hadapannya suatu penglihatan misterius akan sebuah Kitab Suci yang agung dan mulia, yang dilingkupi oleh suatu cahaya surgawi. Malaikat memintanya untuk membaca suatu ayat dalam Kitab Suci. Dari halaman Kitab Suci yang terbuka, Sr Agnes dapat melihat referensinya - Kitab Kejadian bab 3 ayat 15. Kemudian ia mendengar suara malaikat yang mengatakan, sebagai pengantar, bahwa terdapat suatu hubungan yang luar biasa antara ayat ini dan Santa Perawan Maria yang menangis.

Malaikat selanjutnya mengatakan, “Terdapat suatu makna luar biasa dalam angka 101 dari patung Bunda Maria yang menangis sebanyak seratus satu kali. Hal ini menyatakan bahwa dosa masuk ke dalam dunia melalui seorang perempuan dan, demikian pula, melalui seorang perempuan rahmat keselamatan masuk ke dalam dunia. Angka nol, yang ada di antara dua “satu,” melambangkan Tuhan yang ada sepanjang kekekalan masa. “satu” yang pertama mewakili Hawa, dan “satu” yang terakhir mewakili Bunda Maria yang kudus.”

Kemudian malaikat meminta Sr Agnes untuk membaca kembali Kitab Kejadian bab 3 ayat 15, dan mengatakan, “Haruslah engkau menyampaikan pesan ini kepada imam Katolik yang memberikan bimbingan rohani kepadamu.” Lalu malaikat meninggalkannya. Pada saat yang sama, penglihatan akan Kitab Suci pun lenyap.

Segera sesudah adorasi Sakramen Mahakudus, Sr Agnes bergegas menemui P Thomas Teiji Yasuda SVD, pembimbing rohani Sr Agnes Sasagawa (beliau ditunjuk sebagai pembimbing rohani biara di Akita oleh Uskup Ito pada tahun 1974 - setahun sebelum patung Bunda Maria menangis). Imam membuka Kitab Suci dan mendapati ayat yang mencatat pemakluman nubuat Tuhan kepada setan, “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Berikut penjelasan P Teiji Yasuda, “Adalah karena pesan malaikat, yang mengutip Kitab Kejadian bab 3 ayat 15, maka makna luar biasa dari airmata Bunda Maria disingkapkan. Ini berarti bahwa airmata patung Bunda Maria berasal dari tujuan ilahi guna mengarahkan perhatian segenap umat Katolik Roma pada sengsara Maria di kaki Salib sebagai Coredemptrix (= Penebus Serta). Airmata mukjizat diciptakan Tuhan demi mengajarkan kepada seluruh Gereja Katolik Roma bahwa Bunda yang kudus menderita sengsara dan mencucurkan airmata sebagai Bunda Yesus Kristus di tengah peran agung keikutsertaannya dalam penebusan, ketika ia memberikan persetujuan penuh atas persembahan kurban Putranya …. St Paulus memperbandingkan Adam yang baru, Yesus Kristus, sang Penebus, dengan Adam yang lama, seorang pendosa. Dalam pesan Akita pada tahun 1981, Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk menyingkapkan perbedaan menyolok antara Hawa yang lama, yang mencobai Adam untuk berdosa, dan Hawa yang baru, Bunda Maria kita yang kudus, yang melahirkan sang Juruselamat. Seratus satu kali patung menangis menunjukkan kebenaran ini, bahwa Tuhan mempersatukan Maria sebagai bagian yang tak terpisahkan dari karya Penebusan-Nya, dari sejak kekekalan masa.”


     Mukjizat Penyembuhan

Keotentikan kuasa adikodrati dari airmata yang mengalir dari patung Bunda Maria didukung serta diperkuat oleh dua mukjizat obyektif berikut.

Ny Teresa Chun Sun Ho, seorang ibu rumah tangga Korea Selatan, divonis menderita kanker otak pada tahun 1981. Kesehatannya semakin memburuk hingga ia jatuh koma dalam keadaan vegetatif. Keluarga, sanak saudara dan sahabat memohon dengan sangat kepada Santa Perawan Maria dari Akita demi kesembuhannya, dengan menempatkan selembar foto patung Bunda Maria yang menangis di samping bantalnya. Pada tanggal 4 Agustus, tengah malam, sementara Ny Teresa Chun masih dalam keadaan koma, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dalam suatu penglihatan; ia tampak persis sama seperti di Akita. Teresa disembuhkan sama sekali dari penyakitnya. Berikut kesaksian Ny Teresa Chun, “Bunda Maria yang kudus dari Akita, yang membopong seekor anak domba putih dalam gendongannya, menampakkan diri kepadaku, ketika aku masih tergolek tak berdaya di pembaringan, dan menghembusi dahiku sebanyak tiga kali. Aku melihat bulu anak domba bergerak dan bergoyang-goyang karena kuatnya hembusan Bunda Tersuci.” Mukjizat ini diakui kebenarannya oleh Dr Gil Song Lee dalam suatu sertifikat kesehatan yang kemudian dikirimkan ke Tahta Suci.

Mukjizat kesembuhan yang kedua adalah dipulihkannya Sr Agnes dari ketulian pada tahun 1982. Sr Agnes kehilangan pendengarannya pada tanggal 16 Maret 1973. Ketika bergabung dalam komunitas, ia sama sekali tuli tanpa dapat disembuhkan. Sr Agnes dapat berbicara dan dapat memahami pembicaraan lewat gerakan bibir lawan bicaranya. Pada tanggal 18 Mei 1974, malaikat pelindung mengatakan kepadanya, “Telingamu akan dibuka pada bulan Oktober. Engkau akan dapat mendengar kembali. Engkau akan disembuhkan….” Pada tanggal 13 Oktober 1974, tepat seperti yang telah dinubuatkan malaikat pelindungnya, Sr Agnes untuk sementara waktu memperoleh kembali pendengarannya. Ia menjadi tuli kembali pada tanggal 7 Maret 1975. Pada Hari Raya Kabar Sukacita 1982, ia diberitahu bahwa segera ketuliannya akan “secara definitif disembuhkan agar karya Yang Mahatinggi digenapi.” Tahun yang sama, pada perayaan St Yosef Pekerja, malaikat memaklumkan kepada Sr Agnes “telingamu akan secara definitif disembuhkan pada bulan ini yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Telingamu akan disembuhkan, untuk terakhir kalinya, oleh Dia yang sungguh hadir dalam Ekaristi.” Kedua mukjizat penyembuhan ini terjadi tepat pada saat Pujian kepada Sakramen Mahakudus. Berikut seperti ditulis P Teiji Yasuda SVD,

“Sembilan tahun telah berlalu sejak ia kehilangan pendengarannya pada tahun 1973. Pada tanggal 30 Mei, pada Hari Raya Pentakosta, ia disembuhkan secara ajaib saat ia menerima berkat dari Sakramen Mahakudus dalam monstrans yang saya unjukkan dalam sembah sujud Ekaristi di kapel. Begitu berkat Sakramen Mahakudus diberikan, Sr Agnes mendengar lonceng adorasi yang dibunyikan oleh seorang biarawati. Mukjizat kesembuhan ini disahkan dalam suatu sertifikat kesehatan yang dikeluarkan oleh Dr Tatsuhiko Arai dari Rumah Sakit Palang Merah Akita.”

Peristiwa yang sungguh indah ini mengakhiri untuk selama-lamanya penampakan-penampakan, pesan-pesan dan peristiwa-peristiwa ajaib di Akita, yang seringkali disebut sebagai Fatima dari Timur.


     Persetujuan Resmi Gereja

Uskup Yohanes Ito mengatur agar Profesor Sagisaka, M.D., seorang non-Kristiani, seorang ahli dalam bidang forensik, untuk melakukan penelitian ilmiah yang cermat serta seksama atas ketiga cairan, tanpa menyebutkan apa dan darimana cairan itu berasal. Hasilnya adalah, “Materia yang menempel pada kain kasa adalah darah manusia. Keringat dan airmata yang terkandung dalam dua gumpalan kapas berasal dari manusia.”  

Pada tanggal 22 April 1984, Uskup Yohanes Shojiro Ito, ordinaris keuskupan di mana penampakan Bunda Maria terjadi, menerbitkan sepucuk surat pastoral di mana ia mengesahkan penghormatan kepada Bunda Tersuci dari Akita. Dalam surat pastoral tersebut, Uskup Ito memaklumkan keotentikan adikodrati dari ketiga pesan Bunda Maria, pesan-pesan malaikat dan peristiwa-peristiwa adikodrati lainnya yang terjadi atas seorang biarawati Jepang sejak 1973 di sebuah biara di Akita, Jepang Utara, yang ada dalam wilayah keuskupannya. Empat tahun kemudian, pada tanggal 20 Juni 1988, dalam kunjungan Uskup Ito ke Roma, Kardinal Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI), sebagai Prefek Kongregasi Ajaran Iman memberikan persetujuan atas isi surat pastoral Bapa Uskup.


     Pesan2 SP Maria dari Akita

Berikut ketiga pesan Santa Perawan Maria dari Akita seperti yang disampaikannya kepada Sr Agnes Sasagawa:


 6 Juli 1973

“Puteriku, novisku, engkau telah mentaatiku dengan baik dalam meninggalkan segala sesuatu demi mengikuti aku. Adakah cacat telingamu menyengsarakan? Ketulianmu akan disembuhkan, yakinlah. Adakah luka di tanganmu membuatmu menderita? Berdoalah demi silih bagi dosa-dosa umat manusia. Setiap orang dalam komunitas ini adalah puteri-puteriku yang tak tergantikan. Adakah engkau mendaraskan doa Para Abdi Ekaristi dengan baik? Jika demikian, marilah kita mendoakannya bersama.”

“Hati Yesus yang Mahakudus, yang sungguh hadir dalam Ekaristi Kudus, aku persembahkan tubuh dan jiwaku untuk dipersatukan sepenuhnya dengan Hati-Mu, yang dikurbankan setiap saat di segenap altar-altar dunia dan yang mendatangkan kemuliaan bagi Bapa memohon datangnya Kerajaan-Nya.

Sudi terimalah persembahan diriku yang hina ini. Pakailah aku seturut kehendak-Mu demi kemuliaan Bapa dan keselamatan jiwa-jiwa.

Bunda Allah yang Tersuci, janganlah pernah biarkan aku terpisah dari Putra Ilahimu. Sudi belalah dan lindungilah aku sebagai Anak Kesayanganmu. Amin.”

Ketika doa selesai didaraskan, suara surgawi itu melanjutkan,

“Berdoalah banyak-banyak bagi Paus, para Uskup dan para Imam. Sejak pembaptisanmu, engkau telah senantiasa dengan setia berdoa bagi mereka. Teruslah berdoa banyak … banyak sekali. Katakanlah kepada superiormu segala yang terjadi hari ini dan taatilah dia dalam segala hal yang ia katakan kepadamu. Ia telah memintamu untuk berdoa dengan tekun.”


 3 Agustus 1973

“Puteriku, novisku, apakah engkau mengasihi Tuhan? Jika engkau mengasihi Tuhan, dengarkanlah apa yang harus aku sampaikan kepadamu.”

“Sungguh teramat penting … Engkau akan menyampaikannya kepada superiormu.”

“Begitu banyak orang di dunia ini yang menyakiti Tuhan. Aku menghendaki jiwa-jiwa menghibur-Nya demi meredakan murka Bapa Surgawi. Aku berharap, bersama Putraku, akan jiwa-jiwa yang akan menyilih dengan penderitaan dan kemiskinan mereka bagi orang-orang berdosa dan orang-orang yang tak tahu berterima kasih.”

“Agar dunia sadar akan murka-Nya, Bapa Surgawi bersiap untuk mendatangkan suatu penghukuman besar atas umat manusia. Bersama Putraku, aku telah begitu banyak kali campur tangan demi meredakan murka Bapa. Aku menghalangi datangnya malapetaka dengan mempersembahkan kepada-Nya sengsara Putra di Salib, Darah-Nya yang Mahasuci, dan jiwa-jiwa terkasih yang menghibur-Nya, yang membentuk suatu himpunan jiwa-jiwa yang berkurban. Doa, penitensi dan kurban-kurban yang gagah berani dapat meredakan murka Bapa. Aku menghendaki ini juga dari komunitas kalian … agar ia mencintai kemiskinan, agar ia menguduskan diri dan berdoa demi silih bagi rasa tidak tahu terima kasih dan kekejian begitu banyak orang.”

“Daraskanlah doa Para Abdi Ekaristi dengan pemahaman penuh akan maknanya; amalkanlah; persembahkanlah demi silih (apapun yang Tuhan kirimkan) bagi dosa-dosa. Biarlah tiap-tiap orang berjuang menurut kapasitas dan posisi masing-masing, untuk mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.”

“Bahkan dalam suatu biara sekulir pun doa diperlukan. Jiwa-jiwa yang rindu berdoa sudah berada di jalan bersatu bersama. Tanpa terlalu terikat pada bentuk, setialah dan bertekunlah dalam doa demi menghibur sang Tuan.”

Setelah hening sejenak:

“Adakah yang engkau pikirkan dalam hatimu itu benar? Adakah engkau sungguh memutuskan untuk menjadi batu yang dibuang? Novisku, engkau secara terus terang rindu untuk menjadi milik Kristus, menjadi mempelai yang pantas bagi sang Mempelai, engkau berkaul dengan sadar sepenuhnya bahwa engkau harus tergantung pada Salib dengan tiga paku. Ketiga paku ini adalah kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Dari ketiga itu, ketaatan adalah fondasinya. Dalam penyerahan diri secara total, berikanlah dirimu dibimbing oleh superiormu. Ia akan tahu bagaimana memahamimu dan mengarahkanmu.”


 13 Oktober 1973

Sr Agnes mengatakan, “Pada hari Sabtu, 13 Oktober 1973, pada hari peringatan penampakan terakhir di Fatima, patung mulai memancarkan bau harum surgawi itu. Aku berlutut, mengambil rosario dan menandai diri dengan Tanda Salib. Sekonyong-konyong, dengan telingaku yang tuli, aku dapat mendengar suatu suara nan merdu tak terperi yang berasal dari patung.”

“Puteriku terkasih, dengarkanlah dengan seksama apa yang harus kusampaikan kepadamu. Engkau akan menyampaikannya kepada superiormu.”

Setelah hening sejenak:

“Seperti telah kukatakan kepadamu, jika manusia tidak bertobat dan memperbaiki diri, Bapa akan mendatangkan suatu penghukuman yang ngeri atas segenap umat manusia. Suatu penghukuman yang lebih dahsyat dari air bah, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Api akan jatuh dari langit dan akan membinasakan sebagian besar umat manusia, yang baik maupun yang jahat, tanpa mengecualikan baik para imam maupun umat beriman. Mereka yang selamat akan mendapati diri begitu putus asa hingga mereka akan iri pada yang tewas. Satu-satunya senjata yang akan tetap ada padamu adalah Rosario dan Tanda yang ditinggalkan oleh Putraku. Setiap hari daraskanlah rosario. Dengan rosario, berdoalah bagi Paus, para Uskup dan para Imam.”

“Karya setan akan merembes bahkan ke dalam Gereja begitu rupa hingga orang akan melihat kardinal melawan kardinal, uskup melawan uskup. Para imam yang menghormatiku akan dicemooh dan ditentang oleh rekan-rekan mereka … gereja-gereja dan altar-altar dihancurkan; Gereja akan dipenuhi dengan mereka yang menerima kompromi dan iblis akan menekan banyak imam dan jiwa-jiwa yang dipersembahkan bagi Tuhan agar mereka meninggalkan pelayanan bagi Tuhan.”

“Setan akan tanpa ampun khususnya dalam melawan jiwa-jiwa yang dipersembahkan bagi Tuhan. Pemikiran akan hilangnya begitu banyak jiwa adalah penyebab kesedihanku. Jika dosa meningkat dalam jumlah dan dalam kekejiannya, tidak akan ada lagi ampun bagi mereka.”

“Dengan gagah berani, sampaikanlah kepada superiormu. Ia akan tahu bagaimana mendorong masing-masing kalian untuk berdoa dan melakukan tindak silih.”
Mgr. Yohanes Shojiro Ito
Sr. Agnes Sasagawa
“Ialah Uskup Ito, yang akan membimbing komunitas kalian.”

Santa Perawan tersenyum dan lalu melanjutkan,

“Apakah masih ada sesuatu yang hendak engkau tanyakan? Hari ini adalah yang terakhir kalinya aku berbicara kepadamu dalam suara yang hidup. Sejak saat ini engkau akan taat kepada dia yang diutus kepadamu dan kepada superiormu.”

“Berdoalah rosario banyak-banyak. Aku sendiri masih dapat menyelamatkan kalian dari malapetaka yang akan datang. Mereka yang mempercayakan dirinya kepadaku akan diselamatkan.”


sumber : 1. “Our Lady of Akita”; www.catholictradition.org; 2. “Sr Agnes Sasagawa”; www.ewtn.com; 3. “The Message of Mary Co-redemptrix at Akita and the Proposed Marian Dogma Written by Fr Thomas Teiji Yasuda, SVD”; 4. berbagai sumber
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”

Minggu, 09 Desember 2012

Santa Perawan Maria Ratu Rosario



SP Maria Ratu Rosario"Berdoalah Rosario setiap hari... Berdoa, berdoalah sesering mungkin dan persembahkanlah silih bagi para pendosa... Akulah Ratu Rosario... Pada akhirnya Hatiku yang Tak Bernoda akan menang."
Pesan Bunda Maria dalam penampakan kepada anak-anak di Fatima
 APA ITU ROSARIO?
Rosario berarti "Mahkota Mawar". Bunda Maria menyatakan kepada beberapa orang bahwa setiap kali mereka mendaraskan satu Salam Maria, mereka memberinya sekuntum mawar yang indah dan setiap mendaraskan Rosario secara lengkap mereka memberinya sebuah mahkota mawar. Mawar adalah ratu semua bunga, jadi Rosario adalah ratu dari semua devosi, oleh karenanya rosario adalah devosi yang paling penting. Rosario dianggap sebagai doa yang sempurna karena di dalamnya terkandung warta keselamatan yang mengagumkan.

Sesungguhnya, dengan Rosario kita merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih dan mulia dalam kehidupan Yesus dan Maria. Rosario adalah doa yang sederhana, sangat sederhana seperti Maria. Rosario adalah doa yang dapat kita doakan bersama dengan Bunda Maria, Bunda Tuhan. Dengan Salam Maria kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Bunda Maria senantiasa mengabulkan permohonan kita. Ia menyatukan doanya dengan doa kita. Oleh karena itu, rosario menjadi doa yang ampuh sebab apa yang Bunda Maria minta, ia pasti menerimanya. Yesus tidak pernah menolak apa pun yang diminta BundaNya.

Di setiap penampakan, Bunda Surgawi meminta kita untuk mendaraskan Rosario sebagai senjata ampuh melawan kejahatan, dan sarana pembawa damai sejahtera. Dengan doamu digabungkan dengan doa Bunda Surgawi, kamu dapat memperoleh rahmat yang besar untuk menghasilkan pertobatan. Setiap hari, melalui doa, kamu dapat mengusir dari dirimu sendiri dan dari tanah airmu banyak bahaya dan kejahatan. Tampaknya, Rosario hanyalah doa yang diulang-ulang, tetapi sesungguhnya Rosario itu seperti dua orang yang saling mengasihi yang setiap kali saling mengucapkan: "Aku mengasihimu"…

   Keseluruhan Rosario terdiri dari lima belas misteri. Dalam satu misteri didaraskan sepuluh Salam Maria untuk menghormati suatu misteri dalam kehidupan Tuhan Yesus dan Bunda Maria.
   Biasanya kita mendaraskan lima misteri sekaligus sambil merenungkan suatu peristiwa.
   Misteri-misteri dapat didoakan sebagian untuk kemudian dilanjutkan kembali, hingga satu peristiwa lengkap didaraskan dalam hari yang sama.
   Di setiap misteri yang terdiri dari sepuluh Salam Maria, meditasi dapat dilakukan di setiap manik-manik yang mewakili satu Salam Maria.



 ASAL USUL ROSARIO

Karena Rosario dirangkai -terutama dan pada hakekatnya- dari Doa Yesus dan Salam Malaikat, yaitu Bapa Kami dan Salam Maria, maka tanpa ragu-ragu kita mengakui doa itu sebagai doa utama sekaligus devosi utama umat beriman. Doa itu telah dipakai berabad-abad lamanya semenjak zaman para rasul dan murid-murid hingga sekarang ini.

Namun baru pada tahun 1214, Gereja menerima dan mengakuinya dalam bentuknya yang sekarang ini, serta mendaraskannya menurut metode yang kita pakai sekarang ini. Doa ini diwariskan kepada Gereja oleh St. Dominikus, pendiri Ordo Para Pengkotbah, yang menerimanya langsung dari Bunda Perawan Terberkati sebagai sarana yang ampuh untuk mempertobatkan kaum bidaah Albigensia dan pendosa-pendosa lainnya. Sehubungan dengan itu saya mau menceritakan kepada anda kisah St. Dominikus menerima Rosario Suci itu. Kisah ini ditemukan di dalam buku termasyhur Beato Alan de la Roche berjudul De Dignitate Psalterii.

Menyadari bahwa gawatnya dosa-dosa umat merintangi pertobatan kaum bidaah Albigensia, Santo Dominikus mengasingkan diri ke sebuah hutan dekat kota Toulouse. Di sana ia berdoa tak henti-hentinya selama tiga hari tiga malam. Selama itu, ia tidak berbuat apa-apa selain berdoa sambil menangis, dan dengan tekun mengusahakan penebusan dosa demi meredakan kemurkaan Allah yang Mahakuasa. Ia berdoa dan bermatiraga dengan pengendalian diri yang sungguh-sungguh sehingga badannya menjadi lemah dan rapuh. Akhirnya ia jatuh sakit parah. Pada saat itulah Bunda Maria, didampingi oleh tiga malaikat, menampakkan diri kepadanya dan berkata: "Dominikus yang terkasih! Tahukah engkau senjata ampuh yang dipakai Tritunggal Mahakudus untuk membaharui dunia ini?" Jawab Santo Dominikus, "Oh, Ibu, engkau tahu senjata itu jauh melebihi saya, karena di samping Puteramu Yesus Kristus, engkau sudah selalu menjadi sarana utama keselamatan kami." Lalu Bunda Maria menjawab: "Aku mau engkau mengetahui bahwa dalam peperangan semacam ini, alat pelantak yang ampuh itu ialah Salam Malaikat, yang merupakan batu fundasi Perjanjian Baru. Oleh karena itu, kalau engkau mau menemui jiwa-jiwa kaum beriman yang bersikap keras, dan memenangkan mereka bagi Allah, wartakanlah mazmurku."

Dominikus merasa terhibur lalu bangun. Terbakar oleh semangatnya untuk mempertobatkan orang-orang di daerah itu, ia mendirikan sebuah katedral. Pada suatu hari, malaikat-malaikat yang tak kelihatan membunyikan lonceng-lonceng untuk mengumpulkan orang-orang di daerah itu. Lalu Dominikus mulai berkhotbah kepada mereka.

Pada awal khotbahnya terdengar letusan halilintar yang menggemparkan, bumi bergoncang, matahari tak bersinar, dan guntur serta halilintar menggelegar sambung-menyambung membuat semua orang ketakutan. Mereka semakin takut tatkala memandang gambar Bunda Maria mengangkat tangannya ke surga sebanyak tiga kali untuk menurunkan murka Allah atas mereka apabila mereka tidak mau bertobat, tidak mau merobah hidup mereka, dan tidak mau mencari perlindungan dari Bunda Allah yang kudus.

Dengan cara ajaib ini Tuhan bermaksud menyebarluaskan devosi baru kepada Rosario Suci, dan membuatnya lebih dikenal oleh semua orang. Karena doa Dominikus, halilintar itu mulai reda berangsur-angsur, sehingga ia dapat melanjutkan kotbahnya. Dengan tegas dan mendesak, ia menjelaskan nilai dan pentingnya rosario suci sehingga hampir semua orang Toulouse memeluknya dan berjanji untuk meninggalkan kepercayaan mereka yang salah. Dalam waktu yang begitu singkat terjadilah perubahan besar  di kota itu. Umat mulai menghayati kehidupan Kristiani, dan menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka.

(Sumber: “Rahasia Rosario”, judul asli: The Secret of the Rosary by St Louis-Marie Grignion de Montfort, diterjemahkan oleh B. Mali, Penerbit Obor)


 
7 OKTOBER : PESTA SANTA PERAWAN MARIA RATU ROSARIO

Pada tanggal 7 Oktober 1571 terjadi suatu pertempuran armada laut yang dahsyat di Laut Tengah, dekat pantai Yunani. Tempat itu disebut Lepanto. Turki memiliki angkatan laut yang paling kuat di bawah pimpinan Halifasha. Sebelum pertempuran ini, Turki telah menyerang semua pelabuhan Katolik di Eropa. Paus Pius V yang pada waktu itu duduk di Tahta St. Petrus di Roma menyerukan supaya semua orang Katolik di Eropa bersatu dan bertahan terhadap serangan armada Halifasha. Kemudian Paus menunjuk Don Yuan dari Austria menjadi komandan armada gabungan Eropa yang akan menghadapi armada Turki.

Don Yuan terkenal memiliki devosi yang sangat kuat kepada Bunda Maria. Ketika tentara Katolik naik ke kapal untuk diberangkatkan ke medan perang, mereka masing-masing diberi rosario di tangan kanan, sementara tangan kiri mereka memegang senjata. Paus yang menyadari armada ini tidak ada artinya dibandingkan dengan armada Turki yang jumlahnya tiga kali lipat, meminta agar seluruh penduduk Eropa berdoa rosario. Di mana-mana orang berdoa rosario selama 24 jam terus-menerus.

7 Oktober 1571 pukul 11.30 kedua armada itu mulai bertempur dengan dahsyat hingga baru berakhir keesokan harinya pukul 5.30 sore. Mukjizat terjadi di sana. Ketika pertempuran sedang berlangsung sengit, tiba-tiba angin berubah arah sehingga menguntungkan pihak armada Katolik. Armada Turki berhasil dikalahkan. Halifasha mati terbunuh. Karena kemenangan rosario ini, maka tanggal 7 Oktober ditetapkan sebagai Hari Raya Rosario.


 
15 JANJI BUNDA MARIA BAGI MEREKA YANG SETIA BERDOA ROSARIO

1.   Mereka yang dengan setia mengabdi padaku dengan mendaraskan Rosario, akan menerima rahmat-rahmat yang berdaya guna.
2.   Aku menjanjikan perlindungan istimewa dan rahmat-rahmat terbaik bagi mereka semua yang mendaraskan Rosario.
3.   Rosario akan menjadi perisai ampuh melawan neraka. Rosario melenyapkan sifat-sifat buruk, mengurangi dosa dan memenaklukkan kesesatan.
4.   Rosario akan menumbuhkan keutamaan-keutamaan dan menghasilkan buah dari perbuatan-perbuatan baik. Rosario akan memperolehkan bagi jiwa belas kasihan melimpah dari Allah, akan menarik jiwa dari cinta akan dunia dan segala kesia-siaannya, serta mengangkatnya untuk mendamba hal-hal abadi. Oh, betapa jiwa-jiwa akan menguduskan diri mereka dengan sarana ini.
5.   Jiwa yang mempersembahkan dirinya kepadaku dengan berdoa Rosario tidak akan binasa.
6.   Ia yang mendaraskan rosario dengan khusuk, dengan merenungkan misteri-misterinya yang suci, tidak akan dikuasai kemalangan. Tuhan tidak akan menghukumnya dalam keadilan-Nya, ia tidak akan meninggal dunia tanpa persiapan; jika ia tulus hati, ia akan tinggal dalam keadaan rahmat dan layak bagi kehidupan kekal.
7.   Mereka yang memiliki devosi sejati kepada Rosario tidak akan meninggal dunia tanpa menerima sakramen-sakramen Gereja.
8.   Mereka yang dengan setia mendaraskan Rosario, sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal mereka, akan menerima Terang Ilahi dan rahmat Tuhan yang berlimpah; pada saat ajal, mereka akan menikmati ganjaran pada kudus di surga.
9.   Aku akan membebaskan mereka, yang setia berdevosi Rosario, dari api penyucian.
10. Putera-puteri Rosario yang setia akan diganjari tingkat kemuliaan yang tinggi di surga.
11. Kalian akan mendapatkan segala yang kalian minta daripadaku dengan mendaraskan Rosario.
12. Aku akan menolong mereka semua yang menganjurkan Rosario Suci dalam segala kebutuhan mereka.
13. Aku mendapatkan janji dari Putra Ilahiku bahwa segenap penganjur Rosario akan mendapat perhatian surgawi secara khusus sepanjang hidup mereka dan pada saat ajal.
14. Mereka semua yang mendaraskan Rosario adalah anak-anakku, saudara dan saudari Putra tunggalku, Yesus Kristus.
15. Devosi kepada Rosarioku merupakan pratanda keselamatan yang luhur. 
 
Dikutip dari : yesaya.indocell.net